Membaca sebagai Terapi

A young Asian boy is indoors in his elementary school library. He is reading a storybook while sitting on a stack of books.

Penelitian Profesor Blake Morrison, seorang profesor penulisan kreatif dan kehidupan, terhadap ratusan biografi, surat, puisi, dan novel mengungkapkan hal menarik. Temuannya mengindikasikan bahwa sejumlah penulis, ketika membutuhkan katarsis atau kenyamanan, ternyata membaca buku yang sulit dan bahkan gelap.

Prinsip yang sejalan dengan hal itu juga diterapkan dalam biblioterapi, sebuah program membaca terarah yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman pasien dengan dirinya sendiri dan untuk memperluas cakrawalanya serta memberikan aneka ragam pengalaman emosionalnya. Biblioterapi memberikan “resep” berupa buku-buku yang dibaca yang diberikan oleh psikiater.

Ada dua macam bacaan yang bisa digunakan. Pertama, buku-buku self help yang mengandung saran latihan dan saran tindakan. Kedua, buku-buku sastra, imajinatif, yang berorientasi pada perubahan perilaku.

Dengan membaca, seseorang bisa mengenali dirinya. Sementara itu, informasi yang diperoleh dari kegiatan membaca juga menambah wawasan, menjadi masukan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Dengan demikian, kegiatan membaca dapat mendorong sesorang untuk berperilaku lebih positif. (Cahyadi H. Prabowo)

Leave a Reply